Skip to main content

SEJARAH PANAKAWAN PEWAYANGAN SUNDA DAN JAWA

Bagi anda pencinta wayang tentunya sangat mengenal dengan tokoh Panakawan atau Punakawan. Peran Panakawan membuat lakon Wayang menjadi fresh dan segar dalam menjalankan pakem-pakem Wayang. Dibawah ini fenomenamisteri.com ingin berbagi wawasan perihal Serba Serbi Panakawan Dalam Wayang. Dalam rangka bernostalgia dan menghargai budaya kita sendiri mari kita simak Profil dan Sejarah Panakawan Pewayangan Sunda dan Jawa. Peran punakawan dalam wayang Jawa sangatlah penting yaitu sebagai wadyabalad dan juga pengasuh bagi para pandawa dan peran Semar juga memiliki arti khusus sebagai simbol tetua yang merakyat dan memiliki pengaruh dan kekuatan yang dahsyat yang tersembunyi.

SEJARAH PANAKAWAN PEWAYANGAN SUNDA DAN JAWA
punakawan Jawa - Petruk, Bagong, Gareng, Semar
Panakawan atau Punakawan merupakan sebutan umum untuk para pengikut ksatriya dalam khasanah kesusastraan Indonesia, terutama di Jawa. Pada umumnya para panakawan ditampilkan dalam pementasan wayang, baik itu wayang kulit, wayang golek, ataupun wayang orang sebagai kelompok penebar humor untuk mencairkan suasana. Namun di samping itu, para panakawan juga berperan penting sebagai penasihat nonformal ksatriya yang menjadi asuhan mereka.

Peran Punakawan
Istilah punakawan berasal dari kata pana yang bermakna "paham", dan kawan yang bermakna "teman". Maksudnya ialah, para panakawan tidak hanya sekadar abdi atau pengikut biasa, namun mereka juga memahami apa yang sedang menimpa majikan mereka. Bahkan seringkali mereka bertindak sebagai penasihat majikan mereka tersebut.

SEJARAH PUNAKAWAN PEWAYANGAN SUNDA DAN JAWA

Hal yang paling khas dari keberadaan panakawan adalah sebagai kelompok penebar humor di tengah-tengah jalinan cerita. Tingkah laku dan ucapan mereka hampir selalu mengundang tawa penonton. Selain sebagai penghibur dan penasihat, adakalanya mereka juga bertindak sebagai penolong majikan mereka di kala menderita kesulitan. Misalnya, Sewaktu Bimasena kewalahan menghadapi Sangkuni dalam perang Baratayuda, Semar muncul memberi tahu titik kelemahan Sangkuni.

Baca Juga : Misteri Kelahiran Pandawa Korawa Krisna dan Drona

Dalam percakapan antara para panakawan tidak jarang bahasa dan istilah yang mereka pergunakan adalah istilah modern yang tidak sesuai dengan zamannya. Namun hal itu seolah sudah menjadi hal yang biasa dan tidak dipermasalahkan. Misalnya, dalam pementasan wayang tokoh Petruk mengaku memiliki mobil atau handphone, padahal kedua jenis benda tersebut tentu belum ada pada zaman pewayangan.

Sejarah Panakawan
Pementasan wayang hampir selalu dibumbui dengan tingkah laku lucu para panakawan. Pada umumnya kisah yang dipentaskan bersumber dari naskah Mahabharata dan Ramayana yang berasal dari India. Meskipun demikian, dalam kedua naskah tersebut sama sekali tidak dijumpai adanya tokoh panakawan. Hal ini dikarenakan panakawan merupakan unsur lokal ciptaan pujangga Jawa sendiri.
Menurut sejarawan Slamet Muljana, tokoh panakawan muncul pertama kali dalam karya sastra berjudul Ghatotkacasraya karangan Mpu Panuluh pada zaman Kerajaan Kadiri. Naskah ini menceritakan tentang bantuan Gatotkaca terhadap sepupunya, yaitu Abimanyu yang berusaha menikahi Ksitisundari putri Sri Kresna.

Dikisahkan Abimanyu memiliki tiga orang panakawan bernama:
- Jurudyah
- Punta
- Prasanta

Ketiganya dianggap sebagai panakawan pertama dalam sejarah kesusastraan Jawa. Dalam kisah tersebut peran ketiganya masih belum seberapa, seolah hanya sebagai pengikut biasa.Panakawan selanjutnya adalah Semar, yang muncul dalam karya sastra berjudul Sudamala dari zaman Kerajaan Majapahit. Dalam naskah ini, Semar lebih banyak berperan aktif daripada ketiga panakawan di atas. Pada zaman selanjutnya, untuk menjaga keterkaitan antara kedua golongan panakawan tersebut, para dalang dalam pementasan wayang seringkali menyebut Jurudyah Puntaprasanta sebagai salah satu nama sebutan lain untuk Semar.

Daftar Nama para Panakawan
Dalam pementasan wayang, baik itu gaya Sunda, Yogyakarta, Surakarta, ataupun Jawa Timuran, tokoh Semar dapat dipastikan selalu ada, meskipun dengan pasangan yang berbeda-beda.
Pewayangan gaya Jawa Tengah menampilkan empat orang panakawan golongan kesatriya, yaitu Semar dengan ketiga anaknya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong. Selain itu terdapat pula panakawan golongan raksasa, yaitu Togog dan Bilung.

Pada zaman pemerintahan Amangkurat I raja Kesultanan Mataram tahun 1645-1677, seni pewayangan sempat terpecah menjadi dua, yaitu golongan yang pro-Belanda, dan golongan yang anti-Belanda. Golongan pertama menghapus tokoh Bagong karena tidak disukai Belanda, sedangkan golongan kedua mempertahankannya.

SEJARAH PANAKAWAN PEWAYANGAN SUNDA DAN JAWA
Panakawan Sunda - Semar, Petruk, Dawala, Gareng
Dalam pementasan wayang golek Sunda, ketiga anak Semar memiliki urutan yang lain dengan di Jawa Tengah. Para panakawan versi Sunda bernama Semar, Cepot, Dawala, dan Gareng. Sementara itu pewayangan gaya Jawa Timuran menyebut pasangan Semar hanya Bagong saja, serta anak Bagong yang bernama Besut.

Baca Selengkapnya : Profil Wayang Golek Jawa Barat

Dalam pewayangan Bali, tokoh panakawan untuk golongan ksatriya bernama Tualen dan Merdah, sedangkan pengikut golongan jahat bernama Delem dan Sangut.

Dalam pementasan ketoprak juga dikenal adanya panakawan, namun nama-nama mereka tidak pasti, tergantung penulis naskah masing-masing. Meskipun demikian terdapat dua pasang panakawan yang namanya sudah ditentukan untuk dua golongan tertentu pula. Mereka adalah Bancak dan Doyok untuk kisah-kisah Panji, serta Sabdapalon dan Nayagenggong untuk kisah-kisah Damarwulan dan Brawijaya.

Baca Artikel Menarik Lainnya :
Profil Semar Dalam Pewayangan
Profil RA Kosasih - Legenda Komikus Wayang
Tokoh Arjuna Dalam Pewayangan Jawa

Mudah-mudahan Profil dan Sejarah Panakawan Pewayangan ini bisa sedikit memberi gambaran umum bagi para pembaca. Setiap Panakawan diatas tentunya memiliki sejarahnya masing-masing dan untuk tiap daerah bisa berbeda versinya. Bagi admin Fenomena misteri.com,

Khususn buat yang ngefans dengan si Dawala alias Si Cepot bisa membaca lengkap artikel di Profil Cepot Dalam Wayang Golek Jawa Barat. Tentang asal usul Astrajingga dan bagaimana hubungannya dengan Semar dan tentunya juga dibahas tentang Dalang kahot dari Jawa Barat yaitu Asep Sunandar Sunarya tea.

Berhubung admin dari Bandung maka Tokoh Panakawan favorit tentunya adalah Si Cepot alias Astrajingga. ".. Dawalaa kadieu!!.. heuheuheu..
Salam!!
sumber: wikipedia dll
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.