Skip to main content

Catatan Sejarah Persahabatan Jenderal Nasution yang Puritan Dan A.Yani yang Flamboyan

Sejarah Indonesia mencatat tentang sepak terjang dan kekejaman PKI di Indonesia. Bagaimana lekatnya pengaruh PKI melingkupi istana dan mempengaruhi kebijakan Presiden Sukarno kala itu. Sebuah catatan sejarah mencatat tentang kisah persahabatan Jenderal A.H Nasution yang terkenal puritan dan sederhana dengan A. Yani yang flamboyan dan glamor. Mereka berbeda satu dengan yang lainnya dan kadang berbeda pendapat tapi memiliki satu kesamaan yaitu memerangi PKI dengan jalannya masing-masing. Mari kita simak ulasannya di bawah ini.

Catatan Sejarah Persahabatan Jenderal Nasution yang Puritan Dan A.Yani yang Flamboyan

Inilah kisah intrik dan konflik mewarnai hubungan dua jenderal penting di sekitar Sukarno.

Di kota sejuk Bogor, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Letnan Jenderal Abdul Haris Nasution sedang main golf bersama deputinya, Mayor Jenderal Ahmad Yani. Sambil menenteng stik golf, Nasution membuka perbincangan seputar gaya hidup masing-masing. Lagi asyik membeter lubang, Yani tetiba celetuk.

Jangan harapkan orang lain akan memikirkan apalagi mengurus kita. Hendaklah kita uruskan sendiri untuk kita pribadi,” demikian ujar Yani yang diceritakan ulang oleh Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru.

Berbicara soal gaya hidup, Nasution dan Yani memang saling silang. Nasution menekankan kesederhanaan. Sementara Yani tampil lebih glamor.

Satu contoh. Menurut Nasution, pada saat itu Yani mempunyai sebuah vila kecil sebagai tempat rehat dan berekreasi yang disambangi saban akhir pekan. Di kalangan para jenderal, kepemilikan aset semacam itu masih agak jarang dan terdengar mewah. Kesempatan main golf bareng dimanfaatkan Nasution untuk menasihati Yani.

Satu-satunya hal yang kurang saya senangi padanya, sehingga tempo-tempo saya tegur, ia tak mengikuti filsafat saya tentang kesederhanaan. Tapi ia pun berterus terang kepada saya,” kenang Nasution mengenai Yani.

A. Yani Perwira Andalan

Sejak semula, Yani adalah perwira yang menonjol. Di masa revolusi, dia telah menyandang pangkat letnan kolonel. Ketika bertugas di Divisi Diponegoro, Yani membangun reputuasi sebagai penempur dengan membentuk pasukan komando Banteng Raiders. Pasukan elite ini dipersiapkan untuk membereskan pemberontakan Darul Islam.

Nama Yani kian populer setelah memimpin “Operasi 17 Agustus” yang berhasil menggempur perlawanan PRRI di Sumatera Barat. Yani kemudian ditarik ke Markas Besar (Mabes) AD di Jakarta. Nasution mengangkatnya sebagai Deputi I (Operasi) dan kemudian Deputi II (Administrasi).

Menurut Nasution, Yani adalah pembantunya yang sulit tergantikan. Ketika sedang berada di daerah operasi, Nasution mempercayakan Yani memimpin Staf Umum Angkatan Darat (SUAD). Pun selama menjadi deputi, Yani adalah sosok yang sehaluan dengan Nasution: antikomunis garis keras.

Yani bernasib mujur. Rekam jejaknya yang gemilang terdengar sampai ke Istana. Selain kecakapannya sebagai tentara profesional, Yani adalah sosok yang gagah dan flamboyan. Banyak orang menilai Yani sebagai persona penuh pesona. Daya pikat Yani makin kuat melihat postur tubuhnya yang ramping atletis. Tipikal perwira cakap seperti ini begitu disenangi Sukarno.

Sesudah PRRI, Pak Yani disegani. Wibawa. Dianggap strateeg (ahli strategi). Menarik perhatian Bung Karno,” kenang Yayu Rulia Sutowiryo, istri Ahmad Yani, dalam Ahmad Yani: Sebuah Kenang-kenangan.

A. YAni Diperhatikan Sukarno

Yani mulai merapat ke Sukarno semasa kampanye pembebasan Irian Barat digencarkan. Sukarno mendapuk Yani menjadi Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi (KOTI) Pembebasan Irian Barat. KOTI berkantor di Istana dan struktur komandonya berada langsung di bawah presiden.

Bertugas di Istana, Yani jadi semakin akrab ke tengah publik karena dia juga bertindak sebagai Juru Bicara KOTI. Pergaulannya pun kian lekat dengan kehidupan Istana, mengimbangi selebritas Presiden Sukarno. Di sisi lain, sebagai Deputi KSAD, Yani harus tetap membagi waktunya di Mabes AD. Tak pelak, keberadaan Yani di Istana membuat hubungannya dengan Nasution merenggang.

Setelah ia berada di Istana sehari-hari sebagai Kepala Staf KOTI, nyatalah bahwa ia tampil sebagai pengagum Bung Karno dan rupanya cocok pula mereka dalam pergaulan pribadi,” kata Nasution.

Petaka bagi Nasution tiba tatkala Yani mencapai puncak kariernya. Pada 23 Juni 1962, Sukarno menunjuk Yani menggantikan Nasution sebagai KSAD. Sejak itu pula, reorganisasi TNI diberlakukan sesuai keinginan Sukarno. Panglima tiap angkatan berada di bawah komando presiden selaku panglima tertinggi. Yani kemudian menduduki posisi setara menteri, Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad).

Pengangkatan Yani sebagai orang nomor satu di jajaran TNI AD jadi sorotan banyak pihak. Pasalnya, untuk kedudukan sepenting itu, Yani berhasil melangkahi beberapa jenderal yang lebih senior. Rosihan Anwar, jurnalis kawakan masa itu, bahkan mempertanyakan apakah Yani mempunyai kewibawaan moral yang besar atas AD?

Menurut kalangan peninjau politik di Jakarta, hal itu masih jadi pertanyaan. Sebab Yani punya kecendrungan hidup bermewah-mewah,” tulis Rosihan dalam Sukarno, Tentara, PKI: Segitiga Kekuasaan Sebelum Prahara Politik 1961-1965.

Kortsluiting

Menjadi Menpangad menempatkan Yani berada di lingkaran dalam Sukarno. Sementara Nasution, “ditendang ke atas” menjabat Menteri Pertahanan dan Keamanan. Otoritasnya sebatas mengkoordinasi angkatan perang. Menurut Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945—1967, Nasution sengaja disingkirkan karena galak mengkritik Sukarno terutama menyangkut korupsi dan kehidupan pribadi.

Nasution mengakui, semenjak Yani menggantikan dirinya, hubungan mereka tak lagi serasi. Satu kata dalam bahasa Belanda, "kortsluiting”, (artinya: terputus) demikian Nasution menggambarkan relasinya dengan Yani. “Sejak 1963, tak pernah lagi ada konsultasi antara kami berdua, kecuali sekedar bertemu secara insidental saja,” ungkap Nasution.
Baca Juga : Menyingkap Tabir Dibalik G30S/PKI Dan Kronologi Lengsernya Soekarno
Menurut sesepuh TNI AD Letjen (Purn.) Sayidiman Suryohadiprodjo -orang dekat Yani yang pernah menjadi perwira pembantu di Mabes AD- latar belakang masing-masing turut mempengaruhi perbedaan pandangan antara Yani dan Nasution. Nasution sebagai orang Mandailing merupakan Muslim yang kuat. Sedangkan Yani, orang Purworejo yang sikapnya Muslim Jawa (abangan). Di tambah lagi, pada zaman Belanda, Yani sekolah di AMS (sekolah Belanda setara SMA) yang bergaul secara Barat.

Pak Nasution tak bisa dan tak biasa hidup senang-senang seperti Bung Karno. Berdansa-dansa dan dikerumuni perempuan-perempuan, itu jauh dari sikap hidup Pak Nas. Pak Yani beda, ia bisa sekalipun tak biasa melakukannya,” kata Sayidiman kepada Historia.


Meski berbeda pendekatan terhadap Sukarno, Yani dan Nasution sepaham urusan melawan PKI. Menurut Sayidiman, dengan kedudukannya, Yani memainkan peran terselubung membungkam kebijakan dan lobi-lobi politik kubu PKI kepada Sukarno. Ini pun atas sepengetahuan Nasution.

Pak Nas juga setuju bahwa Pak Yani berusaha untuk menjauhkan Bung Karno dari pihak komunis. Kesediaan Pak Yani melayani Bung Karno dalam hidup bersenang-senang termasuk bagian usaha itu. Mungkin Pak Nas anggap Pak Yani terlalu jauh melayani Bung Karno," demikian ungkap Sayidiman.

Demikianlah catatan sejarah mengenai sepak terjang jenderal A.H Nasution yang puritan dan sederhana dengan Jenderal A. Yani yang flamboyan dalam memerangi PKI dan menyelamatlkan Indonesia. Semoga tulisan ini memberikan wawasan baru dan bermanfaat bagi sahabat pembaca.

Sumber referensi:
Martin Sitompul – historia.id
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.