MEMORABILIA

History | Fenomena | Misteri | Legenda | Nostalgia

Misteri Portal Kuno Aramu Muru Benarkah Gerbang Dimensi?

Misteri Portal Kuno Aramu Muru
Misteri Aramu Muru - Gerbang dunia lain
Tentunya sobat pernah menonton film dengan suatu ilustrasi adanya gerbang atau portal antar dimensi. Misteri portal dimensi ini ternyata telah ada dari peradaban masyarakat kuno di dunia. Salah satunya adalah Misteri Portal kuno Aramu Muru Benarkah gerbang dimensi? Cerita ini disampaikan turun temurun dengan tambahan banyaknya kesaksian tentang fenomena-fenomena menurut masyarakat setempat. Tapi juga beberapa orang menganggapnya hanyalah sebuah pekerjaan yang belum selesai dari tukang batu kuno. Tapi banyak legenda setempat mengatakan bahwa Aramu Muru adalah portal atau gerbang ke dunia lain.

Tidak diketahui kapan Aramu Muru dibuat dan siapa yang membuatnya - tetapi kemungkinan besar Aramu Muru dibuat sebelum Inca. Tidak ada penelitian arkeologi telah dilakukan di sini. Misteri Aramu Muru dan kemungkinan prtal dimensi menarik sekali untuk disimak.

Portal batu besar ini terletak di tempat yang tidak biasa yaitu di hutan batu Hayu Marca ("Kota para dewa") di dekat tepi Danau Titicaca. Puncak raksasa dari granit merah menjulang dari tanah kering Altiplano di sini. Proses erosi telah membentuk jembatan alam, gua-gua aneh dan patung-patung alam. Seringkali sulit untuk mengatakan apakah beberapa bentuk aneh telah dibentuk oleh alam atau manusia.
Misteri dan legenda Aramu Muru

Aramu Muru dipotong di sisi salah satu puncak granit tersebut. Portal ini tingginya 7 m dan lebar 7 m, dengan ceruk berbentuk seperti huruf "T" di tengah bawah. Permukaan portal dipoles. Ceruk dalamnya sekitar 2 m - cukup untuk satu orang masuk ke dalamnya. Di tengah-tengah ceruk ada ceruk yang lebih kecil.

Di sisi lain dari tebing, pada jaman dulu terletak sebuah terowongan, yang sekarang diblokir dengan batu untuk mencegah orang-orang memasukinya agar tidak terjadi kecelakaan. Beberapa orang percaya bahwa terowongan itu menuju ke Tiahuanaco.

MONUMEN-MONUMEN KUNO YANG SIMILAR

Bagi mereka yang percaya bahwa Aramu Muru adalah gerbang ke dimensi lain, mereka berargumen bahwa gerbang ini mirip gerbang-gerbang yang ditemukan di Reruntuhan Paquime Casa Grande di Chihuahua, Meksiko seperti dibawah ini

Paquime Casa Grande
Pintu-pintu di Paquime yang juga berbentuk huruf "T"
Dan seringkali juga dihubungkan dengan Gerbang Matahari atau Stargate yang ditemukan di Tiwanaku seperti dibawah ini:

Gerbang yang diberi dijuluki sebagai Stargate di Tiwanaku
atau juga seringkali dikaitkan dengan Makam raja Midas di Turki
Beberapa arkeolog pikir ini adalah makam Midas, namun baru-baru ini beberapa arkeolog ada juga yang berpendapat ini adalah sebuah kuil Dewi Cybele. Sedangkan beberapa penggemar teori portal, menganggap ini adalah salah satu portal dari dunia kuno

Sedangkan bagi mereka yang percaya bahwa Amaru Muru hanyalah pekerjaan yang tidak selesai berargumen bahwa Gerbang ini memiliki beberapa kesamaan mendasar dengan arsitektur batu yang dipotong di India yang juga belum selesai yang bernama Gua Son Bhandar atau Gua Bihar. Legenda lokal di sana juga menceritakan tentang harta yang luar biasa banyak di dalamnya.

MIMPI JOSE LUIS DELGADO MAMANI
Pemandu wisata lokal Jose Luis Delgado Mamani punya mimpi yang tidak biasa di tahun 90an. Dia melihat gunung merah aneh dengan gerbang dipotong di dalamnya. Pintu portal ini terbuka dan cahaya biru berkilauan bersinar dari dalamnya.

Mamani terkejut menemukan pegunungan yang mirip dengan yang ada di mimpinya. Dia bertanya pada penduduk lokal apakah ada beberapa gerbang yang dipotong pada tebing ini - dan, ya, mereka membenarkan - ada gerbang. Beberapa mencoba menghalangi Mamani untuk pergi ke sana, karena penduduk lokal percaya bahwa gerbang tersebut menuju ke alam lain.
Ketika Mamani mencapai gerbang tersebut, ia hampir pingsan kegirangan - ini adalah situs yang ia lihat dalam mimpinya.

Cerita ini segera menjadi headline surat kabar lokal dan beberapa lama kemudian menyebar ke pers internasional.

LEGENDA TENTANG ARAMU MURU
Menurut legenda lokal (mungkin - sedikit dihiasi dengan beberapa mistik kontemporer), gerbang ini mengarah ke dunia roh atau bahkan - ke dunia para dewa.

Portal Keabadian
Portal ini dibuat di masa lalu. Pada waktu itu para pahlawan besar bisa melewati portal dan bergabung di jajaran para dewa. Kadang-kadang dewa-dewa ini kembali ke bumi melalui gerbang ini "untuk memeriksa semua kerajaan".

Cakram Emas
Legenda mengatakan bahwa gerbang itu terbuka untuk sementara waktu di abad ke-16. Waktu itu conquistador Spanyol membantai orang-orang Inca dan menjarah harta yang banyak di kota Cusco.
Di kuil Inca yang paling penting - kuil Coricancha (sekarang disana berdiri Gereja Santo Domingo) - terletak peninggalan yang sangat berharga yaitu cakram-cakram emas.

Menurut legenda, cakram ini diberikan oleh dewa untuk bangsa Inca. Cakram-cakram tersebut memiliki kemampuan penyembuhan yang mujarab.
Dua cakram tersebut disita oleh orang Spanyol, tapi yang ketiga - yang terbesar - menghilang tanpa jejak.

Lari dari Cusco menuju ke ... dunia lain
Seorang imam candi Coricancha - bernama Aramu Muru - berhasil melarikan diri dari malapetaka mematikan di Cusco. Dia membawa cakram emas yang paling besar tersebut bersamanya.

Misteri dan fenomena Aramu Muru

Aramu Muru mencapai bukit Hayu Marca dan bersembunyi di sana untuk sementara waktu. Dia kemudian bertemu dengan seorang imam Inca - penjaga portal dan, ketika penjaga tersebut tahu bahwa Aramu Muru berusaha menyelamatkan salah satu cakram emas, maka diaturlah ritual khusus di pintu gerbang.

Ritual rahasia ini membuka portal raksasa dan cahaya biru bersinar dari dalamnya. Aramu Muru memasuki portal dan tidak pernah terlihat lagi. Pintu gerbang itu pun mendapatkan namanya.

Penodaan
Kemudian tempat ini ditemukan oleh orang Spanyol. Mereka menodainya, menghancurkan setiap artefak yang terlihat dan menyatakan bahwa ini adalah tempat yang jahat - pintu gerbang ke neraka.
Legenda diataspun bercerita tentang masa depan: satu hari portal ini akan terbuka. Dan portal akan tampak jauh lebih besar daripada yang terlihat sekarang. Dewa akan kembali melalui gerbang itu ke Bumi dengan kapal matahari mereka.

Mitologi Modern
Situs legendaris ini juga telah menjadi inspirasi bagi banyak cerita dan teori kontemporer. Misalnya, - beberapa warga mengatakan bahwa kedatangan "dewa" sekarang ini kadang dapat diamati. Dari waktu ke waktu terlihat penampakan cahaya biru misterius bersinar dari ceruk dan mahluk bersinar keluar dari portal ini. Cerita lain mengatakan, bahwa pada waktu tertentu dalam setahun tebing ini menjadi transparan. Peneliti kegiatan paranormal melaporkan bola biru bersinar dan disc berbentuk benda putih terang di sini.

Aramu Muru sering dikunjungi oleh wisatawan, yang tertarik pada tempat-tempat yang misterius. Pencari pengalaman mistis melangkah masuk ke dalam ceruk dan menyandarkan kepala mereka ke tebing. Beberapa orang yang melakukan itu melaporkan melihat bintang-bintang, beberapa lagi melihat kolom api, beberapa lainnya mengaku mendengar musik berirama.

Di zaman yang katanya modern seperti abad ke-20 dan ke-21 ini, legenda-legenda baru terus bermunculan entah dari mana di berbagai situs di seluruh dunia. Ada yang mengatakan "Aramu Muru", terkait dengan alien kuno yang pernah mengunjungi bumi, ada juga yang mengkaitkannya dengan Lemuria dan Mu.

Penjelasan yang paling masuk akal mungkin adalah bahwa Aramu Muru adalah batu candi yang belum selesai. Seiring waktu berlalu, orang-orang terpesona oleh pintu ini, dan terinspirasi untuk menciptakan legenda tentang gerbang ke dunia roh atau gerbang ke dimensi lain atau gerbang ke sisi lain alam semesta.

Misteri Lubang Buaya dan Datuk Banjir di Cipayung Jaktim

Misteri Lubang Buaya dan Datuk Banjir
Lubang buaya sudah sering kita dengar tapi mungkin banyak pembaca yang tidak mengetahui mengenai asal usul Lubang buaya dan kenapa dinamakan lubang buaya. Banyak sekali misteri lubang buaya ini sebelum dijadikan kuburan para jenderal. Misteri Lubang buaya dan Datuk Banjir di Cipayung Jaktim ini menarik untuk kita simak. Siapakah Datuk Banjir? Bagaimana Legenda Lubang buaya ini dimulai. Inilah Kisah Datuk Banjir dan Lubang Buaya di Cipayung Jakarta Timur.

HUJAN turun deras. Datuk Banjir menutup kepalanya dengan kain sarung. Begitu juga kedua temannya. Dalam gelap, getek yang mereka naiki dibiarkan melaju sendiri mengikuti riak air. Di sebuah tempat, getek tiba-tiba berhenti. Datuk mengambil galah dan membenamkan ujungnya ke dasar air untuk mendapatkan gerak maju. Dasar air tak tersentuh. Getek tetap diam.

Dicobanya lagi, masih tak berhasil. Datuk mengira, di sana ada lubang tempat persembunyian buaya.
Ketika air telah surut, Datuk kembali ke sana. Benar saja, di situ terdapat sebuah lubang. Bentuknya seperti sumur. Ia menamakannya Lubang Buaya.

Legenda Lubang Buaya berkembang dari mulut ke mulut. Terakhir, penduduk sekitar mendengarnya dari H. Yusuf, pria asal Cirebon, yang mengklaim keturunan Datuk Banjir. Mereka yang percaya, mendatangi sumur itu setiap menjelang musim hujan, sekira bulan Oktober.

Di sana, mereka menyelenggarakan ruwatan. Doa mohon keselamatan dari ancaman bahaya banjir dipanjatkan. Nama Datuk Banjir yang diyakini menguasai tempat itu, mereka lafalkan dengan khidmat. Tradisi ruwatan meluas ke permohonan lain. Kepada sang penguasa sumur, warga juga meminta limpahan rejeki dan jodoh buat anak-anak gadisnya.

Sumur Lubang Buaya terletak di Desa Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, sekitar 20 kilometer dari pusat kota. Di sebelah selatannya terdapat markas besar Tentara Nasional Indonesia Cilangkap, sebelah utara Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, sebelah timur Pasar Pondok Gede, dan barat Taman Mini Indonesia Indah.

Tanah di seputaran bibir sumur berwarna merah kecoklatan dan kering. Bagian terdekat diberi terali besi bercat merah putih. Lantai marmer putih kilap mengelilingi sumur berdiameter 75 centimeter itu. Sebuah cungkup, bangunan seperti pendopo, memayunginya. Langit-langit bangunan ini diukir.
Tepat di atas lubang, sebuah cermin bergantung. Lewat cermin inilah orang bisa menatap dasar sumur yang diberi pelita. Kecuali nyala api tadi, tak ada apa-apa lagi di sana. Jangankan air, rumput pun tak tumbuh di sumur berkedalaman 12 meter itu.

Kalau Lubang Buaya ditata, itu bukan dimaksudkan untuk mengendapkan cerita rakyat tentang Datuk Banjir. Ada cerita lain yang punya dimensi politik, sekaligus jadi bagian sejarah Indonesia dengan segala kontraversinya. Di sanalah jasad tujuh perwira militer, enam jenderal dan seorang letnan, ditemukan dalam keadaan rusak. Peristiwa traumatik ini, terutama bagi militer Indonesia, dikenal dengan nama G-30-S PKI, kependekkan dari “Gerakan 30 September 1965 Partai Komunis Indonesia”.

Pembunuhan atas para perwira itu jadi antiklimaks ofensif PKI terhadap seteru-seteru politiknya. Militer memburu mereka yang dianggap bertanggung jawab. Kekuatan massa PKI habis dalam tempo cepat, menyusul pembantaian besar-besaran atas mereka di berbagai daerah oleh militer dan massa pro-militer. Sebagian di antaranya dijebloskan ke dalam penjara dan diasingkan ke pulau-pulau terpencil.

Misteri Penduduk Desa Eskimo Yang Hilang di Kanada

misteri desa eskimo hilang - angikuni lake
Pernah mendengar sebuah misteri tentang hilangnya semua penduduk desa secara tiba-tiba dan misterius? Misteri hilangnya penduduk desa eskimo ini adalah salahsatu contohnya. Sebuah misteri penduduk desa eskimo yang hilang di Kanada telah menjadi bahan kajian selama bertahun-tahun. Kisah ini dituturkan oleh Joe Labelle. November, 1930,seorang pemburu bulu bernama Joe Labelle berjalan dengan sepatu saljunya ke sebuah desa Eskimo di tepi Danau Anjikuni di utara Kanada. Labelle sudah mengenal desa itu, yaitu sebuah desa yang masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan, dan dihuni oleh sekitar 2.000 penduduk!..

Ketika ia tiba, tidak seperti biasanya, desa itu sepi. Semua gubuk dan gudang kosong. Dia menemukan satu api yang menyala dana panci rebusan yang menghitam disebuah rumah. Labelle diberitahu yang berwajib dan penyelidik
anpun dimulai,

Labelle yang menyisir lebih jauh menemukan kayak kayak suku eskimo ini yang tidak terurus dan terikat dengan baik. Tak hanya itu, joe juga menemukan 7 ekor anjing yang mati kelaparan dan sebuah kuburan yang digali kembali, Labelle memperkirakan bahwa binatang tak mungkin melakukan penggalian ini karena bebatuan disekeliling kuburan tidak acak acakan.

dan muncullah beberapa temuan aneh: tidak ada jejak apapun dari penduduk yang ditemukan, jika mereka telah mengosongkan desa; mengapa semua anjing kereta luncur Eskimo 'ditemukan terkubur 12 kaki di bawah salju? - anjing-anjing itu semua mati kelaparan, semua makanan Eskimo dan peralatan mereka ditemukan tak terganggu di gubuk mereka. Dan ada satu penemuan mengerikan terakhir:.... kuburan leluhur orang Eskimo telah dikosongkan.

Semua kisah tentang lenyapnya sekelompok atau segerombolan orang, sering dikaitkan dengan penculikan oleh UFO atau alien. ada jugayang mengaitkannyaD dengan dimensi alam semesta lain. Kalau di Indonesia terutama masarakat sumatera tengah, kelenyapan ini biasa dikaitkan dengan penculikan yang dilakukan oleh orang BUNIAN ... semuanya tidak ada yang ilmiah ... tapi haruskah semuanya dijelaskan secara ilmiah? silahkan anda jawab sendiri.

Labelle kemudian melaporkan kejadian ini kepada Royal Canadian Mounted Police (RCMP) yang kemudian melakukan beberapa penyelidikan ke tempat kejadian perkara.

Inuit village - Eskimo lost village
Setelah investigasi selama 2 minggu RCMP yang juga memeriksa makanan di dalam panci itu, memperkirakan bahwa makanan itu setidaknya telah berada di pot itu selama 2 bulan. Jadi paling tidak perkiraan minimal orang orang desa itu meninggalkan desa adalah 2 bulan. Namun jika telah ditinggalkan selama 2 bulan, lalu siapakah yang menyalakan api yang dilihat Joe saat tiba di desa itu?
Beberapa hal lain yg aneh adalah orang orang eskimo itu meninggalkan senjata api dan anjing anjing mereka yang biasa mereka bawa berburu.

Tahun 1931, sebuah dokumen dari RCMP menyimpulkan bahwa pondok pondok itu memang di tinggalkan, baik secara musiman atau permanen berdasarkan petunjuk petunjuk di desa dan adanya kebiasaan orang eskimo yang terkadang masih hidup secara berpinda pindah (nomaden)
RCMP juga berpendapat bahwa kejadian seperti ini sebenarnya adalah hal yang biasa, tetapi bagi orang yang tidak biasa melihat/ mengalaminya dan juga tidak begitu mengenal area ini dapat membuat sebuah kehebohan seperti kasus ini.

17 Januari 1931, seorang petugas RCMP bernama J. Nelson menyimpulkan bahwa Joe sebenarnya telah mengunjungi desa yang salah dengan desa yang memang menjadi bagian hidup nomadennya orang orang eskimo itu, karena Joe Labelle adalah orang baru di daerah itu dan kurang pengetahuan letak dari desa tersebut.

Hal ini di dasarkan Pada salah satu percakapannya dengan salah satu pemilik The Windy Lake Trading Post, yang memberi tahunya bahwa dia tidak pernah mendengar adanya sebuah desa yang ditinggalkan penduduknya.

Kasus ini tetap tak terjawab
pada november 1976, Fate Magazine mengunggah sebuah artikel bertajuk "Vanished Village Revisited" yang ditulis oleh Dwight Wallene. Dalam artikel tersebut RCMP dikatakan melakukan investigasi kembali ke TKP dan hasil dari investigasi itu menunjukkan pondok pondok itu hanya di tinggalkan untuk sementara waktu saja.

Tetapi hal hal lain masih banyak yang tidak terjelaskan, contohnya saja anjing dan senapan api yang tidak di bawa, salah satu laporan juga mengatakan tidak adanya alat alat lain yang tidak berada di tempatnya. Jadi tanpa senapan, tanpa anjing dan tanpa peralatan peralatan lain yang untuk melakukan sebuah migrasi adalah hal yang tidak mungkin karena hidup di alam untuk beberapa waktu (beberapa waktu adalah waktu berpindah dari desa satu ke desa lainnya, karena dari penelusuran RCMP di area dekat situ tidak adanya desa lain). Semua kesimpulan dari kasus ini hanya bersifat perkiraan karena RCMP dan pihak pihak lain yang meneliti kasus ini juga tidak pernah menemukan satupun warga desa yang menghilang itu.

Tetapi 1 hal yang sebenarnya menjadi dasar dari kasus ini adalah apakah memang benar di desa itu ada penghuninya? Atau semua ini adalah rekaan Labelle semata?

LEGENDA PARASURAMA, KISAH RAMABARGAWA DI RAMAYANA DAN MAHABARATA

Kisah Parasurama
Kisah Ramayana dan Mahabarata dalam pewayangan adalah kisah klasik dari jaman ke jaman.  Kisah epik pewayangan yang menceritakan politik, kesaktian dan kehidupan tokoh-tokoh wayang didalamnya. Dibalik kisah Mahabarata yang dahsyat dan kisah Ramayana yang fenomenal ada satu tokoh yang selalu disebut yaitu Parasurama alias Begawan Ramabargawa atau Ramaparasu. Guru dari Resi Bisma, Drona dan juga Karna. Inilah Legenda Parasurama, Kisah Ramabargawa di Ramayana dan Mahabarata. Sebuah kisah seorang Begawan sakti yang mencari kematiannya dari generasi Ramayana sampai ke generasi Mahabarata.

Parasurama atau dalam pewayangan Jawa lebih dikenal dengan Ramaparasu atau Ramabargawa adalah seorang tokoh Ciranjiwin (hidup abadi) dalam ajaran agama Hindu. Ia dikenal sebagai awatara Wisnu yang keenam dan hidup di zaman Tretayuga. Secara harafiah Parashurama berarti “Rama yang bersenjata kapak”. Nama ini ia dapatkan karena ia selalu membawa kapak sebagai senjatanya. Ia juga dikenal sebagai Bhargawa yang bermakna “keturunan Mahararesi Bregu”.

Parasurama adalah putera Jamadagni, seorang resi keturunan Bregu dengan Renuka. Sewaktu ia lahir, ia diberi nama Rama. Setelah ia dewasa, ia lebih dikenal dengan Parasurama, hal ini karena ia selalu membawa kapak sebagai senjata. Selain kapak, Parasurama juga memiliki senjata lain yaitu busur panah yang luar biasa.

Dikisahkan Jamadagni, ayah Parasurama marah kepada istrinya Renuka, karena Renuka membuat kesalahan saat melayani kebutuhan Jamadagni. Oleh Karena itu, Jamadagni meminta anak-anaknya untuk membunuh ibu mereka, dan menjanjikan akan mengabulkan semua permintaan mereka. Kelima putera Jamadagni, tidak ada yang sanggup melakukan perintah ayahnya tersebut, akhirnya karena marah, Jamadagni mengutuk mereka menjadi batu. Tinggal Parasurama yang menjadi harapan Jamadagni, Parasurama pun akhirnya bersedia melakukan perintah ayahnya tersebut. Ia membunuh ibunya sendiri, Renuka.

Sesuai janji Jamadagni, Parasurama kemudian mengajukan permintaannya. Ia  meminta agar Jamadagni menghidupkan dan menerim Renuka kembali, serta mengembalikan kelima kakaknya ke  wujud manusia. Jamadagni merasa bangga dan akhirnya memenuhi semua permintaan Parasurama.

Kisah Begawan Ramabargawa Parasurama
Pada zaman kehidupan Parasurama, ketenteraman dunia dikacaukan oleh ulah kaum ksatria yang suka berperang satu sama lain. Kebenciannya terhdap kaum ksatria semakin bertambah setelah, raja Kerajaan hehaya yang bernama Kartawirya Arjuna merampas sapi milik Jamadagni. Parasurama marah dan membunuh raja tersebut. Namun kemudian anak-anak kartawirya Arjuna lalu membalas dendam dengan cara membunuh Jamadagni.  Parasurama pun bangkit untuk menumpas mereka. Tidak terhitung lagi berapa banyak ksatria yang tewas terkena kapak dan panah Prasurama.

Ia dikisahkan sampai mengelilingi dunia sampai tiga kali demi menumpas para ksatria di seluruh bumi. Setelah merasa cukup, Parasurama pun megadakan upacara pengorbanan suc di tempat yang bernama Samantapancaka. Tempat itu pada zaman berikutnya, dikenal dengan nama Kurukhsetra dan dianggap sebagai tanah suci yang menjadi arena perang akbar antara Pandawa dan Korawa.

Dari sekian banyak ksatria yang telah ia bunuh, tetapi masih ada ksatria yang masih hidup,salah satunya dalah Wangsa Surya yang berkuasa di Ayodhya, kerajaan Kosala. Salah satu keturunan Wangsa adalah Sri Rama putera Dasarata.

Rama berhasil memenagkan sayembara di kerajaan Mithila untuk memperbutkan Sita atau dalam pewayangan jawa lebih dikenal dengan Shinta. Rama berhasil mengangkat dan membentangkan busur  panah, pusaka pemberian Siwa, dan bahkan berhasil mematahkan pusaka yang maha dahsyat beratnya.

Kabar itu terdengar oleh Parasurama di pertapaannya, mala ia pun mencegat Rama ketika Ia memboyong Shinta ke Ayodhya. Namun dengan lembut hati, Rama berhasil menenangkan kemarahan Parasurama yang akhirnya kembali pulang ke pertapaannya. Pertemuan ini merupakan pertemuan sesame awatara Wisnu, yang saat itu Wisnu telah menjelma kembali sebagai Rama.

Pada Zaman Dwaparayuga, Wisnu terlahir kembali sebagai Kresna putera Basudewa. Karena Parasurama hidup sebagai Ciranjiwin, ia pun masih hidup abadi di bumi. Pada zaman itu Parasurama menjadi guru sepupu Kresna yaitu Karna yang menyamar menjadi seorang brahmana muda. Sebenarnya Karna berasal dari golongan ksatria tetapi karena demi mendapatkan ilmu dari Parasurama, akhirnya ia menyamar menjadi seorang brahmana.

Setelah mengajarkan berbagai ilmu kesaktian baruah Parasurama sadar bahwa Karna bukan dari golongan brahmana. Ia pun marah dan mengutuk karna, bahwa ia akan lupa terhdap semua ilmu kesaktian yang telah ia pelajari pada saat ia dalam keadaan terdesak dalam suatu pertempuran. Kutukan itu menjadi kenyataan, Karna lupa akan semua mantra dan ilmu yang ia pelajari dari Parasurama ketika, kereta perangnya terperosok ke dalam lumpur, sementara Arjuna sudah siap membidiknya dalam perang akbar di Kurukhsetra. Oya baca artikel menarik laainnya di Mungkinkah Mahabharata dan Ramayana adalah perang nuklir?

Dalam pewayangan Jawa, Parasurama lebih dikenal dengan sebutan Ramabargawa, atau sering juga dipanggil Jamadagni, sama dengan nama ayahnya.

Diceritakan bahwa Parasurama adalah keturunan Batara Surya bukan titisan Wisnu, ayahnya, Jamadagni adalah sepupu Kartawirya raja kerajaan Mahespati, yang merupakan ayah dari Arjunasasrabahu, musuh dari Parasurama. Jamadagni juga masih memilikiikatan persaudaraan dengan Resi Gotama ayah Subali dan Sugriwa.

Dalam pewayangan, Ramabargawa membunuh ibunya sendiri, Renuka atas perintah ayahnya karena Renuka telah berselingkuh dengan Citrarata raja kerajaan Martikawata.Mulai saat itulah, muncul kebencian Ramabargawa terhadap kaum ksatria.

Setelah merasa jenuh dan cukup menumpas kaum ksatria, ia memutuskan untuk meninggalkan dunia. Atas petunjuk dewata, ia akan mencapai surge, jika ia mati di tangan awatara Wisnu. Wisnu dikisahkan menitis kepada Arjuna Sasarabahu.

Ramabargawa akhirnya berhasil menemui Arjuna Sasarabahu, namun saat itu, Arjuna Sasarabahu telah kehilangan semangat hidupnya setelah kematian istrinya Citrawati dan Sumantri, patihnya. BUkannya ia terbunuh oleh Arjuna Sasrabahu, tetapi justru ia yang mmbunuh Arjuna Sasrabahu.

Ramabargawa kecewa dan menuduh dewata telah berbohong. Turunlah Batara Narada dan menjelaskan bahwa Wisnu telah meninggalkan Arjuna Sasrabhu untuk terlahir kembali sebagai Rama, putera Dasarata. Ramabargawa diminta bersabar menunggu Rama hingga dDewasa, elak ia yang akanmembunuhnya mengantarkannya ke surga.

Keberhasilan Rama memenangkan sayembara di lerajaan Mantili untuk memperebutkan Sinta terdengar oleh Ramabargawa. Ia kemudian mencegat Rama di tengah perjalanan saat ia akanmemboyong Sinta ke Ayodya. Ramabargawa menantang Rama untuk bertarung. Dalm perang tanding tersebut, Ramabargwa akhirnya gugur di tangan Rama, dan naik kahyangan menjadi Dewa bergelar Batara Ramaparasu. (baca juga artikel ilmiah tentang Vimana, Pesawat terbang india kuno)

Pada zaman berikutnya, Ramaparasu bertemu dengan awatara Wisnu lainnya, yaitu kresna, yang saat itu sedang dalam perjalanan menjadi duta Pandawa ke Hastinapura. Bersama Batara Narada, Bathara Kanwa dan Batara Janaka, ia menghadang kereta Kresna ikut serta ke Hastinapura, mereka menjadi saksi perindungan dengan pihak Korawa. Selama hidupnya, Parasurama hanya memiliki tiga murid yakni, Bisma, Drona dan Karna.

Sejarah Tongsis, Asal Usul Tongkat Narsis untuk Selfie

Sejarah Tongsis Tongkat narsis
Pernah dengar Tongsis? Tongsis ini bukan sodaranya Klinik Tong Fang yang fenomenal itu.. hehe. Tongsis adalah singkatan dari Tongkat Narsis bagi pecandu foto selfie alias alat bantu digunakan gadget mania untuk memotret diri sendiri. Bagi anda yang ingin mengetahui Sejarah Tongsis, Asal Usul Tongkat Narsis untuk Selfie bisa membaca artikel ini. Tongsis ini ramai digunakan seiring berkembangnya handphone dan hobby foto selfie di masyarakat.

Hasil penelusuran di dunia maya, awal mula dibuatnya alat ini saat sang empunya ide melakukan kunjungan ke Thailand. Jika berwisata ke salah satu kota di Thailand para turis merasa kesulitan saat hendak merekam moment-moment saat berada di salah satu tempat wisata.

Konon masalah bahasa juga menjadi kendala saat para turis melakukan kunjungan ke negeri gajah putih tersebut. Sebagian masyarakat Thailand kurang fasih memakai bahasa asing membuat para turis memutar otak cara untuk mendapatkan rekaman foto usai melakukan kunjungan wisata.

Kemudian muncullah ide untuk membuat alat berbentuk tongkat yang bisa dipanjangkan hingga satu meter dengan di ujung tongkat terdapat tempat untuk menaruh ponsel atau perangkat portabel lainnya. Tentunya para penggila foto kamera saku sedikit lega dengan kedatangan alat yang bisa menopang aksi narsisnya tersebut. Sebab alat ini biasanya digunakan untuk pengguna yang ingin mengambil foto dalam posisi wide yang lebih luas karena keterbatasan perangkat mobile.

Pemerhati media sosial Ignatius Haryanto membenarkan jika perkembangan teknologi yang semakin maju membuat para pelaku kreatif semakin beragam menunjukkan karyanya agar dinikmati semua orang.

"Tongsis ini sendiri merupakan alat yang buat untuk mendukung aksi gadget mania yang kerap narsis di depan kamera," ujarnya, jumat (14/3/2014).

Penelusuran merdeka lewat dunia maya, alat yang kerap digunakan para pelaku narsis ini memang semakin meningkat di pasaran. Tongkat yang disebut juga dengan monopod dibanderol kisaran harga Rp 250 ribu. Para penggiat fotografi lewat kamera ponsel membuat alat ini semakin digemari di masyarakat.